Hutan Sebagai Masa Depan Peradaban
Jangan Biarkan Padang Gurun Menyusulnya
Hutan Sebagai Masa Depan Peradaban
Jangan Biarkan Padang Gurun Menyusulnya
"Kita sering lupa bahwa kita adalah alam. Alam bukanlah
sesuatu yang terpisah dari kita. Jadi ketika kita berkata kita telah kehilangan
hubungan kita dengan alam, maka sebenarnya kita kehilangan hubungan dengan diri
kita sendiri.." - Andy Goldsworthy
Hutan memiliki peran sebagai spons
raksasa, menyerap air hujan selama musim penghujan dan perlahan-lahan
melepaskannya selama musim kering. Hutan menyediakan sistem infiltrasi alami
dan penyimpanan yang memasok sekitar 75 persen air yang dapat digunakan secara
global. Perakaran pohon dan serasah dedaunan
menciptakan kondisi yang mendorong infiltrasi air hujan ke dalam tanah
dan kemudian ke dalam air tanah,
menyediakan pasokan air selama masa-masa kering. Pepohonan dan hutan
meningkatkan kualitas aliran air sungai dan kesehatan daerah aliran sungai dengan mengurangi volume air limpasan
permukaan dan polutan yang memasuki perairan lokal. Pepohonan dan hutan juga menyerap zat hara dan polutan dari tanah dan
air melalui perakarannya, dan mengubahnya menjadi substansi yang tidak begitu berbahaya.
Hutan juga menjaga kualitas air tetap tinggi
dengan meminimalkan erosi dan mengurangi
sedimen. Deforestasi umumnya meningkatkan erosi, yang membuat konsentrasi
sedimen dalam air limpasan menjadi lebih
tinggi dan siltasi (pelumpuran) aliran-aliran air. Kapasitas hutan untuk
mengurangi kejadian dan kedahsyatan banjir ke arah hilir karena hujan besar mungkin lebih terbatas daripada
yang dipahami kebanyakan orang. Namun demikian, mempertahankan vegetasi alami di zona tangkapan dan zona
hutan tepian (sempadan) dapat mengurangi banjir bandang dan puncak banjir melalui efek spons dari tegakan hutan
serta mengurangi dampak merusak dari banjir lokal dengan menghalangi arus air dengan batang, percabangan pohon, dan
serasah hutan lainnya.
Indonesia dikaruniai dengan salah satu
hutan yang paling luas dan paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia . Puluhan
juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata pencahariannya dari hutan,
baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka atau bekerja pada sektor industri pengolahan kayu. Hutan tropis ini merupakan habitat flora dan
fauna yang kelimpahannya tidak tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang
sama. Bahkan sampai sekarang hampir setiap ekspedisi ilmiah yang dilakukan di
hutan tropis Indonesia selalu menghasilkan penemuan species baru.
Namun demikian, suatu tragedi terus berlangsung
di Indonesia. Sekarang Indonesia menjadi
pusat perhatian dunia, karena kalangan di dalam negeri dan masyarakat
internasional
begitu gusar menyaksikan perusakan
sumber daya alam yang semena-mena di negeri ini. "Keajaiban ekonomi" Indonesia pada
tahun 1980-an dan 1990-an terrnyata sebagian terjadi menghancurkan lingkungan dan pelanggaran hak
dan tradisi mayarakat lokal.
Seratus tahun yang lalu Indonesia
masih memiliki hutan yang melimpah,
pohon-pohonnya menutupi 80 sampai 95 persen dari luas lahan total. Tutupan hutan total pada waktu itu
diperkirakan sekitar 170 juta ha. Saat
ini, tutupan hutan sekitar 98 juta hektar ,
dan paling sedikit setengahnya diyakini sudah mengalami degradasi
akibat kegiatan manusia. Banyak
sekali ancaman terhadap hutan Indonesia mulai dari berbagai kegiatan seperti pembalakan
skala besar sampai pembukaan hutan skala kecil oleh para keluarga petani; dari
tebang habis untuk membuka lahan industri pertanian sampai kehancuran akibat
kebakaran hutan yang berulang.
Bumi yang tiada rimba, seumpama hamba, dia dicemar manusia
yang jahil ketawa, bumi yang tiada udara bagai tiada nyawa
Pasti hilang suatu hari tanpa disedari
Bumi tanpa lautan, akan kehausan pasti lambat laun hilang
Duniaku yang malang
(Hijau, Zainal Abidin)
Resolusi Hijau 2015
Resolusi hijau 2015 yang tepat untuk
Indonesia adalah menghijaukan kembali hutan demi masa depan peradaban bumi,
kita tidak boleh membiarkan hutan
menjadi padang gurun yang gersang.
Hutan adalah masa depan peradaban, pohonnya tak bernilai harganya. Jika kita merawat satu pohon hari ini, maka kita tengah mempersiapkan kehidupan 20 tahun yang akan datang. Memandang pepohonan saja bisa membantu kita untuk mengatasi kelelahan mental. Para peneliti menyebutkan bahwa hal ini karena alam terbuka memberi kita rasa takjub yang merupakan salah satu emosi paling restoratif (memiliki kemampuan untuk memulihkan) yang bisa didapatkan manusia.
Hutan adalah masa depan peradaban, pohonnya tak bernilai harganya. Jika kita merawat satu pohon hari ini, maka kita tengah mempersiapkan kehidupan 20 tahun yang akan datang. Memandang pepohonan saja bisa membantu kita untuk mengatasi kelelahan mental. Para peneliti menyebutkan bahwa hal ini karena alam terbuka memberi kita rasa takjub yang merupakan salah satu emosi paling restoratif (memiliki kemampuan untuk memulihkan) yang bisa didapatkan manusia.
Studi lain "Environmental Pollution" yang baru
menyebutkan bahwa pohon dapat mencegah terjadinya 650.000 kasus gejala
pernapasan akut. Dan juga bisa mencegah terjadinya 850 kematian. Hal ini
dikarenakan pohon memiliki peran yang penting untung mengatasi polusi.
Namun, data dari FAO
menyatakan jika selama tahun 2000-2005 hutan Indonesia berkurang 1.8 juta
hektar per tahunnya. Bisa kita bayangkan, Indonesia tak ada bedanya dengan
gurun pasir lantaran tanahnya yang menjadi gersang.
Lalu, dimanakah peran kita sebagai
pemuda? Apa yang harus kita lakukan? Peran pemuda dalam melestarikan lingkungan
hidup sangat besar. Pemuda merupakan generasi penerus yang kelak akan mewarisi
bangsa ini, termasuk kekayaan alam dan lingkungan hidup di dalamnya. Bahkan
harus meneruskan warisan itu kepada generasi yang akan datang.
Warisan kekayaan alam dan lingkungan
hidup ibarat tongkat estafet di mana pemuda menjadi bagian di dalamnya. Agar
estafet dan amanat itu terjaga, tidak bisa tidak, pemuda harus berperan aktif
dalam melestarikan lingkungan hidup.
Beberapa hal penting yang bisa kita
lakukan:

Kedua, Hal lainnya yang bisa kita lalukan yaitu
menghemat
penggunaan kertas. Satu rim kertas A4
menghabiskan sebatang pohon berusia minimal 5 tahun. Jika semakin banyak kertas
'terbuang' berarti semakin banyak pohon yang ditebang.
Ketiga, mendukung serta ikut berpartisipasi dalam gerakan penanaman pohon, baik yang berskala regional maupun nasional. Semua tergantung pilihan kita, ketika kita ingin memperbaiki sesuatu, terutama planet bumi sebagai rumah bersama, lebih sempurna kita mengerjakannya bersama-sama. Oleh karena itu, bergabunglah bersama The Nature Conservancy Program Indonesia, bersama kita ciptakan efek positif dan mewujudkan Indonesia Hijau.
"Hanya Jika kita memahami, kita bisa peduli.
Hanya jika kita peduli, kita akan membantu.
Hanya jika kita membantu, mereka bisa diselamatkan..."
- Jane Goodall
Sumber:
1.CIGR. 2013. Sejumlah Temuan Utama Penelitian. Available at http://www.cifor.org/publications/pdf_files/factsheet/4176-factsheet.pdf. [Accesed 20 January 2014]
2. FWI/GFW. 2001. Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.: Global Forest Watc
3. 100jutapohon.com
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan jejak kalian
Semoga setiap tulisan saya mampu membawa pengaruh positif bagi pembaca. Terima Kasih ^___^